Bagian yang penting dalam pendidikan formal di sekolah adalah membantu anak didik untuk mengetahui sesuatu, terutama memperoleh pengetahuan pada tingkat “memahami”. Meskipun, realita di lapangan /di sekolah memperlihatkan bahwa “siswa belajar hanya untuk tes” (learning for testing ) dan “guru mengajar hanya untuk tes” (teaching for understanding) dan belum ke arah “mengajar untuk pemahaman” (teaching for understanding). Secara sederhana, bagaimana membantu siswa untuk menguasai bahan pelajaran yang di berikan guru. Menurut Filsafat klasik, pengetahuan itu sudah ada dan sudah jadi. Tugas guru adalah mentransfer pengetahuan itu ke dalam otak anak didik sehingga anak didik dari tidak tahu menjadi tahu. Maka anak didik tinggal membuka otaknya dan menerima pengetahuan itu. Atau sering kali diungkapkan bahwa anak didik itu seperti tabula rasa, kertas putih kosong. Sedangkan tugas guru adalah memberi tulisan-tulisan pada kertas kosong tersebut.
Menurut filsafat konstruktivisme yang berbeda dengan Filsafat klasik, pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) siswa sendiri yang sedang belajar. Pengetahuan siswa akan anjing adalah bentukan siswa sendiri yang terjadi karena siswa mengelola, mencerna, dan akhirnya merumuskan dalam otaknya pengertian akan anjing. Pengetahuan itu kebanyakan dibentuk lewat pengalaman indrawi, lewat melihat, menjamah, membau, mendengar dan akhirnya merumuskannya dalam pikiran. Filsafat ini sedang digandrungi oleh sejumlah Negara maju saat ini sehingga warna dan nuansa pelaksanaan pendidikan di sekolah sangat diwarnai filsafat ini.
Dalam pengertian konstruktivisme, pengetahuan itu merupakan proses menjadi, yang pelan-pelan menjadi lebih lengkap dan benar. Sebagai contoh, pengetahuan siswa tentang kucing terus berkembang dari pengertian yang sederhana, tidak lengkap, dan semakin dia dewasa serta mendalami banyak hal tentang kucing akan bertambah lengkap.
Menurut para konstruktivis, pengetahuan itu dapat dibentuk secara pribadi (personal). Siswa itu sendirilah yang membentuknya. Tokoh dalam hal ini adalah Piaget. Semua hal lain termasuk pelajaran dan arahan guru hanya merupakan bahan yang harus diolah dan dirumuskan oleh siswa sendiri. Tanpa siswa sendiri aktif mengelola, mempelajari, dan mencerna, ia tidak akan menjadi tahu. Maka, dalam pengertian ini, pendidikan atau pengajaran harus membantu anak didik aktif belajar sendiri. Namun, pengetahuan juga dapat dibentuk secara sosial (bersama). Vygotsky mengatakan bahwa pengetahuan anak dibentuk dalam kerjasama dengan teman lain. Hal ini terutama berlaku pada pembelajaran bahasa. Orang hanya akan lebih maju dalam bidang bahasa bila ia belajar bersama orang lain. Maka, Vygotsky menekankan pentingnya kerjasama dalam kelompok. Tatkala kerja kelompok itu siswa dapat saling mengoreksi sambil mengungkapkan gagasan, dan saling meneguhkan.
Peran guru atau pendidik dalam aliran konstruktivisme ini adalah sebagai fasilitator atau moderator. Tugasnya adalah merangsang /memberikan stimulus, membantu siswa untuk mau belajar sendiri, dan merumuskan pengertiannya. Guru juga mengevaluasi apakah gagasan siswa itu sesuai dengan gagasan para ahli atau tidak. Sedangkan tugas siswa adalah aktif belajar, mencerna, dan memodifikasi gagasan sebelumnya.
Dalam model filsafat konstruktivisme, jelas bahwa bentuk pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran siswa yang aktif dan kritis. Siswa tidak kosong, tetapi sudah punya pengertian awal tertentu yang harus dibantu untuk berkembang. Maka, modelnya adalah model dialogis, model konsientisasi, model mencari bersama antar guru dan siswa. Model banking system (system bank) di mana siswa pasif hanya mendengarkan guru ceramah dan hanya taat kepada apa yang dikatakan guru tanpa boleh kritis jelas bertentangan. Dalam hal ini, model konsientisasi yang dicetuskan oleh Paulo Freire cocok karena disana siswa menjadi aktif dan partisipatif dalam proses belajar bersama. Bahan pun dapat ditentukan bersama-sama antara siswa dan guru.
Maka, model pembelajaran yang dianggap baik adalah model demokratis dan dialogis. Siswa dapat mengungkapkan gagasannya, dapat mengkritik pendapat guru yang diangap tidak tepat, dapat mengungkapkan jalan pikirannya yang lain dari guru. Guru tidak menjadi diktator yang hanya menekankan satu nilai satu jalan keluar, tetapi lebih demokratis. Maka, model pendidikan yang membuat siswa bisu (budaya bisu) tidak zamannya lagi. Pendidikan yang benar harus membebaskan siswa untuk berpikir, berkreasi, dan berkembang. Siswa tidak dijadikan penurut dan jadi robot, tetapi menjadi pribadi yang berpikir, memilih, dan menentukan sikap. Model pembelajaran seperti itu juga berlaku dalam bidang kemanusiaan yang lain, dalam penanaman nilai moral, nilai kebaikan, spiritualitas, sosialitas, dan lain-lain. Semua nilai kemanusiaan yang mau dikembangkan perlu dibantu oleh pendidik dengan cara yang demokratis.
Sumber : S.Karim, Februari 2003, bahan pelatihan KBK disarikan dari Suparno, P
dkk, 2002: Reformasi Pendidikan: sebuah rekomendasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar